Teori Maqashid al-Syariyah

Posted by Unknown On Tuesday, 8 November 2011 0 comments


I.                   PENDAHULUAN
Pembicaraan tentang tujuan pembinaan hokum islam atau Maqashid al-tasyri’  merupakan pembahasan penting dalam hokum islam yang tidak luput dari perhatian ulama serta pakar hokum islam. Sebagian ulama menempatkannya dalam bahasan ushul fiqih, dan ulama lain membahasnya sebagai bahasan tersendiri serta diperluas dalam “Filsafat Hukum Islam”.

II.                PEMBAHASAN
Bila diteliti semua suruhan dan larangan allah dalam al-Qur’an, begitu pula suruhan dan larangan nabi dalam sunah yang terumuskan dalam fiqih, akan terlihat bahwa semuanya mempunyai tujuan tertentu dan tidak ada yang sia-sia. Semuanya mempunyai hikmah yang mendalam, yaitu sebagai rahmat bagi umat manusia[1], sebagai mana ditegaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya dalam surat al-Anbiya(21): 107, tentang tujuan nabi Muhammad diutus:


“Tidakalah maksud kami mengutusmu, kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam”

Tujuan Syar’i dalam mensyari’atkan ketentuan-ketentuan hokum kepada orang-orang mukalap adalah dalam upaya mewujudkan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan mereka, baik dalam ketentuan-ketentuan hokum yang dapat memelihara kepentingan hidup manusia dengan menjaga dan memelihara kemaslahatan mereka, maupun ketentuan hokum yang memberi peluang bagi mukalaf untuk memperoleh kemudahan kemudahan dalam keadaan mereka sukar untuk mewujudkan ketentuan-ketentuan dharuri.
Seandainya norma-norma tersebut tidak dipatuhi, niscaya mereka akan dihadapkan kepada Mafsadah dan berbagai kesukaran. Ketentuan-ketentuan dharuri itu secara umum bermuara pada upaya memelihara lima hal, yaitu Agama, jiwa, akal, harta dan keturunan.[2]


Pendahuluan
Manusia selalu dihadapi berbagai masalah dalam hidupnya. Jarang sekali orang dapat melewatkan waktunya tanpa menghadapi suatu masalah, besar atau kecil. Dan untuk mengantisipasi semua itu maka para ilmuan mengadakan penelitian untuk mengetahui darimana, sejauh mana, dan bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut..
Pembahasan
A.    Sumber masalah
Seperti yang telah dikemukakan penelitian pada dasarnya dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain untuk memecahkan masalah. Untuk itu setiap penelitian yang akan dilakukan harus selalu berangkat dari masalah.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, dan antara rencana dengan pelaksanaan.
Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan,dan kompetisi[1].
Sekurang kurangnya ada tiga sumber awal untuk memperoleh tema mengenai suatu permasalahan penelitian, yaitu:
a.    Diri sendiri
Yaitu dengan mendasarkan pada pengetahuan dari pengalaman ataupun pengamatan diri sendiri terhadap hal yang dapat dijadikan permasalahan penelitian.
b.   Orang lain
Yaitu mendasarkan pada  pengetahuan dari pengamatan atau pengalaman orang lain mengenai hal yang dapat dijadikan permasalahan penelitian. Seperti dengan cara bertukar pikiran dalam suatu diskusi dengan orang-orang yang ahli dalam hal tertentu.
c.    Tulisan atau karangan ilmiyah
Yaitu dengan membaca secara kritis berbagai tulisan atau karangan ilmiah, maupun laporan hasil penelitian mengenai hal yang dapat dijadikan focus perhatian penelitian[2].


I.             PENDAHULUAN
Adalah suatu hal yang sangat menarik untuk kembali mempertanyakan tema di atas sehingga dengannya dapat diambil sebuah pengetahuan yang membuahkan pemahaman yang lebih atasnya.
Pendidikan sebagai sebuah proses sosialisasi. Keingin-tahuan tentangnya dapat dikaji dengan mengawalinya memunculkan beberapa pertanyaan, antara lain : apa yang dimaksud dengan pendidikan dan sosialisasi ? apakah proses sosialisasi itu bermula dari dirinya (peserta didik) ? atau ia adalah respon dari sesuatu di luar dirinya (keluarga, masyarakat, atau lingkungan tempat ia beraktivitas) ?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas , selanjutnya akan dipaparkan dalam bab pembahasan yang tentunya hal ini membutuhkan peran aktif semua untuk mendiskusikannya.

II.          PEMBAHASAN
a. Pengertian Pendidikan Dan Sosialisasi
Menurut Muhibbin Syah, M.Ed. dalam bukunya ”Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru”. Mendefinikan pendidikan sebagai ”Sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan”. [1]
Kalau kita mencermati definisi di atas dijelaskan bahwa pendidikan adalah rangkaian sebuah proses atau bisa jadi proses itu sendiri yang berimplikasi logis terhadap pengetahuan, pemahaman, dan juga tingkah laku.peserta didik. Ada hal yang menarik yang dikemukakan oleh DR. H. Syaiful Sagala, M.Pd dalam bukunya ”Administrasi Pendidikan Kontemporer”  beliau mengatakan ”Pendidikan mengandung pengertian yang luas dari pengajaran, karena sasaran pendidikan tidak hnya mencakup pengembangan intelektualitas saja, akan tetapi lebih lebih ditekankan pada proses pembinaan kepribadian anak (peserta didik) secara menyeluruh”. [2]
Sedangkan sosialisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses pengaruh, dipengaruhi, dan mempengaruhi aktivitas yang dengannya setiap individu dapat menyesuaikan diri. Walaupun pemahaman tersebut tersebut tidak memiliki rujukan yang jelas namun hal itu sangat menarik untuk didiskusikan.
Pemahaman tersebut tetap mengacu pada sebuah proses yakni sebuah upaya dalam berinteraksi, baik itu interaksi untuk dipahami atau memahami terhadap suatu objek oleh subjek atau subjek atas objek. Kalau dikaitkan dalam ranah pendidikan hal ini memberikan pemahaman adanya proses interaksi antara dirinya dengan dirinya maksudnya adalah upaya untuk menggali potensi-potensi yang ada dalam dirinya untuk dapat diaktualkan atau  dirinya dengan sesuatu yang berada di luar dirinya seperti keluarga, masyarakat, dan lingkungannya sehingga mempengaruhi cara berpikir, memahami, kemudian bertindak.
Satu hal yang perlu untuk dicamkan adalah bahwa yang menjadi subjek sekaligus objek dalam proses sosialisasi adalah diri, yang dengannya terbentuk kepribadian yang mencerminkan jati diri yang termanifestasi dalam aktualisasi diri (tingkah laku).
Dengan penjelasan singkat di atas, setidaknya dapat menjawab beberapa pertanyaan dalam bab pendahuluan tentang apa yang diinginkan oleh pendidikan dan sosialisasi. Sedangkan penjelasan atas pertanyaan selanjutnya adalah bahwa proses sosialisasi memang harus bermula dari diritanpa menafikan proses yang bersumber dari luar dirinya. Dalam sebuah makalah ”Sosiologi Pendidikan” oleh Gamar Al-Haddar dijelaskan, dimana menurut hemat penyusun hal tersebut merupakan proses sosialisasi yang merupakan respon dari sesuatu di luar dirinya. Dalam makalah tersebut dikatan bahwa agen sosialisasi meliputi : keluarga, teman bermain, sekolah, dan media massa. [3]    
Selanjutnya pemaparan agen sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut :
Ø  Kelurga merupakan agen pertama dalam sosialisasi yang ditemui anak pada awal perkembangannya.
Ø  Kelompok teman sebaya sebagai agen sosialisasi di mana si anak akan belajar tentang pengaturan peran orang-orang yang berkedudukan sederajat.
Ø  Sekolah sebagai agen sosialisasi merupakan institusi pendidikan di mana anak didik selama di sekolah aspek kemandirian, prestasi, universalisme.
Ø  Agen sosialisasi terakhir adalah media massa di mana melalui media massa sosialisasi pesan-pesan dan simbol-simbol yang disampaikan oleh berbagai media akan menimbulkan berbagai pendapat pula dalam masyarakat. [4]
Apa yang dipaparkan di atas sangat berpengaruh besar dalam kedirian anak didik dalam membentuk kepribadiannya dan bersikap (tingkah laku).
Untuk selanjutnya sebagai pelengkap makalah ini, penyusun akan membahas hal-hal yang menjadi sub tema dari materi kali ini dintaranya, perkembangan kepribadian dan kedirian, kepribadian sebagai faktor penyebab tingkah laku, dan kedirian dan kepribadian sebagai produk proses sosialisasi.

b. Perkembangan Kedirian Dan Kepribadian
Menurut Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc dalam bukunya ”Sosiologi Pendidikan” mengatakan bahwa ”Memahami diri merupakan awal untuk memiliki percaya diri dan harga diri, dimana selanjutnya seseorang akan memiliki jati diri yang sebenarnya sebagai seorang manusia”. [5]
Dalam menjelaskan tentang diri (perkembangan dalam mengenal diri), beliau sebelumnya mengutip sebuah pendapat dari Shomali, 1996:26, dikatakan bahwa ”salah satu manfaat praktis dalam mengenal diri adalah memungkinkan seseorang berkenalan akrab dengan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakat pribadinya. Ini amat membantu bagi seseorang dalam kehidupannya dan dapat mencegahnya, misalnya, dari memiliki bidang studi atau pekerjaan yang secara inheren tidak sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang Tuhan anugerahkan kepadanya”. [6]  
Dari pendapat kedua tokoh di atas, dapat diambil dua hal yang dengan dua hal tersebut semoga penyusun dapat lebih mudah untuk dapat memahami perkembangan kepribadian dan kedirian. Yang penyusun maksud dari dua hal tersebut adalah, pertama, memahami diri adalah langkah untuk memupuk rasa percaya diri, harga diri, serta jati diri,sedangkan yang kedua, memupuk rasa percaya diri, harga diri, serta jati diri hanya bisa dilakukan setelah orang tersebut mampu untuk mengenali kemampuan-kemapuan dan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.
Harga diri dan percaya diri yang berkembang sedemikian rupa pada akhirnya memang ditentukan seberapa jauh persepsi seseorang tentang dirinya, dimana nantinya perilaku ditampilkan dari percaya diri dan harga diri tersebut menimbulkan penilaian dari orang lain, hasil akhir dari penilaian orang tersebutlah akan menjadi jati dirinya, oleh karena itu perkembangan harga diri dan percaya diri akan bermuara pada jati diri, dimana seterusnya akan memunculkan kepribadian, identitas diri atau kedirian dan keunikan diri.[7]
Tentang kepribadian, identitas diri, dan keunikan diri Watloly, 2001:125 menjelaskan bahwa, kepribadian, yakni manusia dilihat sebagai satu kesatuan objek dengan skala nilai pada setiap saat. Faktor kepribadian ini juga mempunyai belbagai pengalaman dan unsur-unsur serta tahap-tahap pembentukannya dari waktu ke waktu. Identitas Diri atau Kedirian. Hal ini dapat dilihat dari kesatuan historis dan perkembangan pribadi seseorang yang terlibat dalam proses pembentukannya dari waktu ke waktu. Sedangkan Keunikan Diri menunjukkan bahwa manusia merupakan anggota yang unik tiada duanya dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya.[8]

c. Kepribadian Sebagai Faktor Penyebab Tingkah Laku
Kepribadian merupakan sifat dan tingkah laku yang membedakannya dengan orang lain. dalam pembahasan sebelumnya  sudah dijelaskan hal-hal yang melahirkan atau membentuk kepribadian yang mana bentukan itu bisa dikarenakan sesuatu yang berasal dari dalam dirinya (intern) dan juga sesuatu yang membentuk berasal dari sesuatu di luar dirinya (ekstern). Cuma ada hal yang menarik untuk dipertanyakan adalah sejauhmana faktor bentukan internal itu tidak akan terkontaminasi oleh faktor eksternal ? landasan kenapa pertanyaan ini muncul adalah karena manusia adalah makhluk sosial. Pertanyaan selanjutnya adalah, secara umum faktor mana, yang lebih dominan membentuk kepribadian manusia ? faktor internalkah ? atau faktor eksternal ? sehingga kepribadian ini nantinya akan berimlplikasi logis terhadap tingkah laku.

d. Kedirian Dan Kepribadian Sebagai Produk Proses Sosialisasi
Untuk mengambil kesimpulan, apakah kedirian dan kepribadian merupakan produk dari proses sosialisasi, hal tersebut pasti dengan sendirinya akan terjawab. Dimana sebuah proses yang telah dilakukan dalam pengenalan diri terhadap dirinya maupun pengenalan diri melalui sesuatu diluar dirinya adalah sebuah proses sosialisasi.




III.       PENUTUP
Sebagai kesimpulan dari penjabaran yang telah dikemukakan di atas adalah bahwa sebuah proses pembentukan karakter anak didik merupakan hasil dari sebuah proses sosialisasi pendidikan, baik sosialiasi langsung atau tidak langsung, yang pasti selama terjadi interaksi yang saling pengaruh, dipengaruhi, dan mempengaruhi suatu proses pengenalan diri, meningkatkan percaya diri atau jati diri dan pambentukan kepribadian akan terus berlangsung. Selagi ada proses maka semuanya bersifat dinamis, dinamis berarti terus selalu ada perubahan, dan adalam dunia ciptaan yang abadi hanyalah perubahan.


[1]. Muhibbin Syah, M. Ed. “Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru”. Hal.12.
[2]. DR. H. Syaiful Sagala, M.Pd “Administrasi Pendidikan Kontemporer”. Hal. 5
[3]. Gamar Al-Haddar. Dalam Makalah berjudul “Pendidikan Sebagai Proses Sosialisasi”.
[4]. Orcit.
[5]. Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc. ”Sosiologi Pendidikan”. Hal. 71
[6]. Idem.
[7]. Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc. ”Sosiologi Pendidikan”. Hal. 70
[8]. Lihat Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc. ”Sosiologi Pendidikan”. Hal. 70-71


Pendahuluan
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan satu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang oftimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan system pendidikan dan system pemgelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam system pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentrelesasi. Model pengembangan yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistic, teknologis dan rekonstruksi social.[1]

Pembahasan
Untuk melakukan pengembangan kurikulum ada berbagai model pengembangan kurikulum yang dapat dijadikan acuan atau diterapkan sepenuhnya, diantaranya adalah:
  1. Model Administratif
Model administratife atau garis-komando (line-Staff) merupakan pola pengembangan kurikulum yang paling awal dan mungkin yang paling dikenal. Model pengembangan kurikulum ini berdasarkan pada cara ker ja atasan-bawahan (top-down) yang dipandang efektif dalam pelaksanaan perubahan kurikulum.
Model administrasi/garis komando memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
Ø  Administrator Pedidikan/ Top Administrative Officers (pemimpin) membentuk komisi pengarah.
Ø  Komisi Pengarah (Steering Comittee) bertugas merumuskan rencana umum, mengembangkan prinsip-prinsip sebagai pedoman, dan menyaipkan suatu pernyataan filosofi dan tujuan-tujuan untuk seluruh wilayah sekolah.

Ø  Membentuk komisi kerja pengembangan kurikilum yang bertugas mengembangkan kurikulum secara operasional mencakup keseluruh komponen kurikulum dengan mempertimbangkan landasan dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
Ø  Komisi pengarah memeriksa hasil kerja dari komisi kerja dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu bila dianggap tidak perlu. Karena pengembangan kurikulum model administratif ini berdasarkan konsep, inisiatif, dan arahan dari atas kebawah, maka akan membutuhkan waktu bertahun-tahun agar dapat berjalan dengan baik. Hal inidisebabkan adanya tunututan untuk mempersiapkan para pelaksana kurikulum tersebut.
Dari uraian mengenai model pengembangan kurikulum administratifm kita dapat menandai adanya dua kegiatan didalamnya:[2]
a.       Menyiapkan seperangkat dokumen kurikulum baru, dan
b.       Menyiapkan instalasi dan implementasi dokumen.
Dengan kata lain, midel administratif/ garis-komando membutuhkan kegiatan pemyiapan para pelaksana kurikulum melalui berbagai bentuk pelatihan agar dapat melaksanakan kurkulum dengan baik.
  1. Model Grass-Roots
Model pengembangan kurikulum ini merupakan lawan/kebalikan dari model pertama inisiatif dan pengembangan kurikulum bukan datang dari atas tetapi dari bawah. Bisa dikatakan model administratif bersifat top-down (atasan-bawahan), sedangkan model grass – roots adalah bottom – up (dari bawah keatas). Lebih lanjut juga bisa diketahui bahwa model pengembangan kurikulum yang pertama digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan / kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersipat desentralisasi.
Dalam model pengembangan yang bersifat grass-roots seorang (guru) dapat mengupayakan pengembangan komponen- komponen kurikulum dapat keseluruhan, dapat pula sebagian dari keseluruhan komponen kurikulum atau keseluruhan dari seluruh komponen kurikulum. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
  1. Model Beauchamp
Pengembangan kurikulum dengan menggunakan metode beauchamp memiliki lima memiliki lima bagian pembuat keputusan. Lima tahap tersebut adalah:
  • Memutuskan arena pengembangan kurikulum, suatu keputusan yang menjabarkan ruang lingkup upaya pengembangan.
  • Menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa sajakah yang ikut terlibat dalam pengembangan kurikulum.
  • Organisasi dan prosedur pengembangn kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhandesain kurikulum.
  • Implementasi kurikulu, yakni kegiatan untuk menerapkan kurikulum seperti yang sudah diputuskan dalam ruang lingkup pengembangan kurikulum.
  • Evaluasi kurikulum.
  1. Model arah terbalik Taba
Sesuai dengan namanya, model pengembangan kurikulum ini terbalik dari yang lazim dilaksanakan, yakni dari biasanya dilakukan secara deduktif menjadi induktif, dengan urutan:
  • mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru
  • menguji unit eksperimen
  • mengadakan refisi dan konsolidasi
  • pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum
  • implementasi dan diseminasi
  1. Model Rogers
Cari Rogers adalah seorang ahli psikologi yang berpandangan bahwa manusia dalam proses perubahan mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembangsendiri. Berdasarkan pandangan tentang manusia maka rogers mengemukakan model pengembangan kurikulum yang disebut dengan model Relasi Interpersonal Rogers
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model rogers diantaranya adalah:
  • pemilihan satu sistem pendidikan sasaran
  • pengalaman kelompok yang intensif bagi guru
  • pengembangan satu pengalaman kelompok yang intensif bagi satu kelas atau unit pelajaran.
  • Melibatkan orangtua dalam pengalaman kelompok yang intensif.
Rogers lebih mementingkan kegiatan pengembangan kurikulum daripada rencana pengembangan kurikulum tertulis, yakni melalui aktivitas dan interaksi dalam pengembangan kelompok intensif yang terpilih.
  1. Model Demonstrasi
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass-rotss, datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleeh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya bersekala kecil, hanya mencakup satu atau beberapa sekolah, satu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.
Menurut Smith, Stanley, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini:[3]
·         Sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum.
·         Bentuk kedua ini kurang bersifat formal. Beberapa guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengembangkan penelitian dan mengembangkan sendiri. Mereka mencoba menggunakan hal-hal yang lain  yang berbeda dengan yang berlaku.
  1. The Systematic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum meerupakan perubahan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan kepribadian ornang tua, siswa guru, struktur sistem sekolah, pols hubungan pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada tiga hal: hubungan insani, sekolah dan organisasi masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan propesional.
Penyusunan kurikulum ini harus memasuka pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalha dengan prosedur action research:
o   Mengadakan kajian secara seksama tentang masalah-masalh kurikulum, berupa pengumpulan data bersifat menyeluruh, dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengruhi masalah tersebut.
o   Implementa si dari keputusan yang diambil dalam tindakan pertama. Tindakan ini segera diikutioleh kegiatan pengumpulan data dan fakta-fakta
  1. Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, serta nilai-nilai efisiensi efektifitas dalam bisnis. Juga mempengruhi perkembanagan model-model kurikulum. Tumbuh kecendrungan-kecendrungan baru yang didasarkan atas hal itu diantaranya:
o   Menekankan kepuasan prilaku atau kemampuan
o   Berasal dari gerakan efesiensi bisnis
o   Suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer.

Penutup
Dalam pengembangan model kurikulum, sedapat mungkin didasarkan pada paktor-paktor yamg konstan, sehingga ulasan mengenai model-model yang dibahas dapat dilakukan secara konsisten. Faktor-fajtor konstan yang dimaksud adalah dalam pengembangan model kurikulum perlu didasarkan pada tujuan, bahan pelajaran, proses belajar mengajar, dan evaluasi yang tergambarkan dalam proses pengembangan tersebut.[4]
Demikianlah pembahasan makalah yang cukup singkat dan sederhana ini semoga bisa bermanf’at bagi kita semua...Amien


[1] Prof. Dr. Nana syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, 2001, Remaja Rosdakarya, Bandung, Hal. 161
[2] Dr, Dimyati, Drs. Mudjiono, Belajar Dan Pembelajaran, 2006, PT. Rineka Cipta, Jakarta, Hal. 281
[3] Prof. Dr. Nana syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, 2001, Remaja Rosdakarya, Bandu, Hal.165
[4] Dr. Abdullah idi, M.Ed, Pengembangan Kurikulum teori dan Praktek, 2007, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, Hal.154

Riwayat Imam Syafi'i

Posted by Unknown On 0 comments


Imam Syafi'i salah seorang Ulama Fiqih (hukum Islam) yang terkenal dan mempunyai pengikut yang ramai di Negara-Negara yang ramai penduduk Islamnya terutama di Indonesia dan Malaysia. Beliau di lahirkan pada tahun 150 H di Gaza. Imam Syafi'i menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengkaji hal-hal yang berkenaan Hukum Islam.
Disamping itu beliau juga salah seorang ahli sya'ir yang terkenal dengan sya'irnya yang indah dan berisi. Syairnya-syairnya ibarat untaian mutiara yang gemerlapan, penuh dengan ungkapan-ungkapan balaghah, hikmah, dan nasihat yang bernilai tinggi. Imam Syafi'i pencinta Ilmu Pengetahuan semenjak kecil, Beliau biasa mengkhatamkan al-Quran sebanyak enam puluh kali, terutama dalam bulan Ramadhan, terutama dibacanya ketika sholat. Imam Syafi'i seorang yang suka berderma dari apapun harta yang dimilikinya.
Hidupnya sangat sederhana terutama dalam makan dan minum. Beliau tidak pernah makan kenyang semenjak usia enam belas tahun. Karena kekenyangan akan menambah berat badan, mengeraskan hati, menumpulkan otak, membawa mengantuk dan malas beribadah, demikian kata Imam Syafi'i.
Imam Syafi'i wafat selepas magrib malam Juma'at, akhir bulan Rajab, dan jenazah beliau dikebumikan pada hari Jum'at, tahun 204 Hijriyah di Mesir. Ramai Ulama yang mengakui kejujuran, keadilan, kezuhudan, kewara'an, dan akhlak yang mulia yang dimiliki oleh Imam Syafi'i. Selama hidupnya penuh dengan petunjuk dengan sifat taqwanya yang tinggi dan hidupnya jauh dari kesesatan dan kejahatan.


PENDAHULUAN
Masalah pendidikan bukan masalah yang sepele , karena pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dan krusial dalam mendukung dan bahkan dalam mempercepat pembentukan masyarakat madani demokratis berkeadaban yang menjadi salah satu karakter terpenting masyarakat madani Indonesia.[1]  Menurut azyumardi azra, peran pendidikan adalah mempersiapkan anak bangsa, baik secara indipidual maupun sosisal, agar memiliki kemampuan , keterampilan, etos dan motivasi untukberpartisipasi aktif dalam aktualisasi dan institusionalisasi masyarakat madani.[2]
Terlepas dari semua itu, kebanyakan orang tidak sesuai menilai tujuan pendidikan yang ada atau bahkan mungkin tidak mengetahuinya. Dalam peraturan pemerintah republic Indonesia no 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan bab 2 pasal 4, standar pendidikan nasional bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.[3] Agak berbeda menurut prof.DR. Azyumardi azra, tujuan akhir pendidikan adalah mempersiapkan indipidu anakl didik dan warga masyarakat yang m emiliki kemammpuan untuk mengaktualisasikan, melembagakan dan mengembangkan masyarakat madani Indonesia.[4]
Lantas, bagaimanakah tujuan pendidikan menurut Al-Qur’an yang menjadi pedoman serta pegangan umat islam dalam kesehariannya?


PEMBAHASAN

#x»yd                                     ×b$ut/ Ĩ$¨Y=Ïj9 Yèdur ×psàÏãöqtBur šúüÉ)­GßJù=Ïj9 ÇÊÌÑÈ
“Ini adalah penerang bagi seluruh manusia dan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al- Imran : 138)
dalam ayat diatas “Ini adalah penernang bagi seluruh manusia” memberi kesan kepada manusia secara umum untuk menerima dari penjelasan tentang ayat-ayat tuhan yang terhampar dibumi, baik yang tampak maupun yang taktampak, sehingga keragu-raguan manusia dalam mempelajari semua kejadian dialam raya dapat ditemukan (terjawab) dan berganti menjadi pemahaman yang sempurna tentang sunatullah.
Pernyataan Allah: “Ini adalah penerang bagi seluruh manusia” juga mengandung makna bahwa allah tidak menjatuhkan sanksi kepada sebelum manusia mengetahui sanksi itu.dia tidak mendadak manusia dengan siksanya, karena ini adalah petunjuk jalan bagi peringatan. “Dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”  selain untuk manusia secara umum ayat ini juga menunjukan bahwa penerangan yang diberikan tuhan dikhususkan pula untuk orang-orang yang bertaqwa, berfungsi sebagai petunjuk bagi yang memberi bimbingan (masa kini dn akan datang) menuju arah yang benar. Yaitu bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga tidak heran diantara mereka ada yang mampu mengambil hikmah, dan pelajaran dari sunatullah yang berlaku dalam masyarakat.[5]
Ÿwur (#qãZÎgs? Ÿwur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Ayat ini berkenaan tentang peristiwa kekalahan diperng uhud sehingga mereka banyak yang merasa lemah dan bersedih padahal semua itu adalah sunatullah dan allah memberikan hiburan kepada mereka dengan kalimat “padahal kamulah orang-orang yang tinggi derajatnya” dan yang menerima derajat yang itu bagi mereka yang tetap beriman kepada allah dn rasulnya.
Ó£JptC ãAqß§ «!$# 4 tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£Ï©r& n?tã Í$¤ÿä3ø9$# âä!$uHxqâ öNæhuZ÷t/ ( öNßg1ts? $Yè©.â #Y£Úß tbqäótGö6tƒ WxôÒsù z`ÏiB «!$# $ZRºuqôÊÍur ( öNèd$yJÅ Îû OÎgÏdqã_ãr ô`ÏiB ̍rOr& ÏŠqàf¡9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßgè=sVtB Îû Ïp1uöq­G9$# 4 ö/àSè=sVtBur Îû È@ŠÅgUM}$# ?íötx. ylt÷zr& ¼çmt«ôÜx© ¼çnuy$t«sù xán=øótGó$$sù 3uqtFó$$sù 4n?tã ¾ÏmÏ%qß Ü=Éf÷èムtí#§9$# xáŠÉóuÏ9 ãNÍkÍ5 u$¤ÿä3ø9$# 3 ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# Nåk÷]ÏB ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $JJÏàtã ÇËÒÈ Ÿwur (#qãZÎgs? Ÿwur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ
Ayat diatas menurut sayid Quthub begitu mengagumkan, Al-Qur’an dalam menggambarkan keadaan orang-orang pilihan, sangatlah indah dalam menggambarkan keadaan dan sifat kelompok terpilih ini, yaitu dengan cuplikan kalimat ”Mereka keras terhadap orang-orang kafir,namun kasih sayang antar mereka” dan cuplikan yang menggambarkan mereka dalam ibadah yaitu “engkau melihat mereka ruku dan sujud” lalu yang menggambarkan hati mereka yaitu dengan kalimat “mencari karunia allah dan keridhoan-Nya” selanjutnya yang menggambarkan dampak serta arah ilahi yang dituju , yaitu “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”
Setiap orang mempunyai potensi berupa kekuatan, namun yang menjadi perbedaan adalah orang saleh akan menggunakan kekuatan dan potensinya dengan tepat, bila dibandingkan dengan potensi yang diberikan kepada orang –orang yang ingkar pada allah itu pasti disalah gunakan. Oleh karena itu sarana-sarana yang berada di dunia ini merupakan ranhmat bagi orang-orang orang-orang yang menggunakannya dengan baik.
Sarana yang ada didunia ini bagi orang saleh akan menjadi hubungan dirinya dengan allah semakin harmonis dan ini ditandai dengan mereka mendirikan shalat, dan juga hubungan mereka dengan sesame manusia semakin baik ini ditandai dengan menunaikan zakat.
Amar ma’ruf dan nahyi munkar dipandang sebagai landasan untuk membangun masyarakat yang aman dan sehat. Orang-orang yang saleh tidak akan menyia-nyiakan pemberian allah berupa kekuatan, kemudian ia mendirikan shalat, membayar zakat serta mengerjakan amar ma’ruf dan nahyi munkar.sebagai mana firman-Nya:

$tBur      tûïÏ%©!$# bÎ) öNßg»¨Y©3¨B Îû ÇÚöF{$# (#qãB$s%r& no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨9$# (#rãtBr&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ (#öqygtRur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# 3 ¬!ur èpt6É)»tã ÍqãBW{$# ÇÍÊÈ 
  (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Pada poin ini (Amar ma’ruf dan nahyi munkar) tentunya  dengan menggunakan kelembutan atau cara yang efektif terhadap sebuah masalah, muingkin kita dapat mengambil contoh ketika Rasulallah Saw suatu ketika didatangi oleh seorang pemuda dan ia berkata “Wahai Rasulallah! Izinkan saya berzina” mendengar permintaan itu orang-orang berteriak dan memprotesnya, tetapi Rasulallah dengan tenang berkata ”mendekatlah kemari anak muda” anak muda itupun mendekat dan duduk dihadapan rasulallah, kemudian rasul berkata dengan lemah lembut “apakah kamu suka jika ibumu dizinahi orang?” anak muda itupun menjawab “tentusaja tidak, semoga kau menjadi tebusanmu!” rasulpun berkata, “ begitu juga , orang lainpun tidak suka jika ibunya diperlakukan seperti itu” kemudian, beliau bertanya lagi kepada pemuda itu: Apakah ia suka kalau anak perempuanya dijinahi orang. Anak muda menjawab “tidak” maka rasulpun mengatakan bahwa orang lainpun tidak suka kalau anak perempuannya dizinahi orang, rasul bertanya lain padanya: bagai mana kalau yang dizinahi saudara perempuanmu? Maka pemuda itu menjawab “tidak” (seraya menyesali dan menyadari jika permintaannya untuk berbuat zina itu salah). Kemudian rasul meletakan tangannya kedada anak muda tadi seraya berdoa untuknya “ya Allah! Sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah agar ia tidak terkena kotoran perbuatan keji” sejak saat itu yang paling dibenci pemuda itu adalah perbuaatan zina.[6]
Dalam pembahasan yang disebutkan diakhir ayat mengatakan: “ Dan kepada allah semua urusan kembali” fase ini berarti karena semua awal kekuatan dan kemenangan adalah dari sisi allah maka akhir segala sesuatu akan kembali juga pada-Nya.
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Disisni menyebutkan kata zin didahulukan dari kata insan karena jin lebih dahulu diciptakan dari pada manusia. Thabathabai memahami huruf lam pada ayat ini diartikan Agar supaya, yakni tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk menyembah –Ku. Beliau berpendapat demikaian karena penciptaan pasti ada tujuan, sehingga kata tujuan atau agar supaya adalah sesuatu yang digunakan oleh yang bertujuan itu untuk menyempurnakan apa yang belum sempurna baginya atau menanggulangi kebutuhan atau kekurangannya. Tenti saja hal ini  mustahil bagi allah. Ibadah adalah tujuan dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali kepada penciptaan itu.
Bila kita kaji kembali pembahasan yang panjang diatas dapat kita ambil  kesimpulan, bahwa tujuan dari pendidikan menurut alqur’an yaitu:
  1. mendidik jiwa tauhid agar tumbuh rasa kehambaan ytang tinggai terhadap allah. Ini dibuat dengan membawa manusia berfikir tentang kebesaran allah, kuasa allah, kehebatan allah, kebaikan dan rahmat allah serta nikmatnya.
  2. mendidik hati agar rasa rindu dengan syurga allah, rahmat dan kemampuan allah , bantuan allah dll. Semua itu di lakukan dengan menyebutkan khabar-khabar gembira tentang perkara-perkara tersebut.
  3. mendidik iman dan taqwa dihati
  4. mendidik manusia agar melakukan amal saleh dan berakhlak mulia. Untuk itu al-Qur’an banyak menceritakan sejarah hidup para nabi, rasul dan orang-orang saleh yang patut dijadikan panduan hidup manusia.
  5. mendidik manusia agar menghindari sift-sifat jahat dan agar selamat dari api neraka.
  6. mendidik manusia agar memiliki sikap hidup yang khusus sebagai seorang islam, agar selamat dunia dan akhirat.

PENUTUP
Al-Qur’an meletakan kedudukan manusia sebagai khalifah allah dimuka bumi(al-Baqarah:30) esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh allah untuk memimpin dan mengelola alam, dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yang menopang untuk terwujudnya jabatan sebagai khalilfah tersebut.


[1] Menuju masyarakat madani, karangan frop. DR. Azyumardi azra, 1999, Bandung, Rosda karya.
[2] Prof. DR. Azyumardi azra, paradigma baru pendidikan nasional, hal xxi
[3] pp-19-2005-standar-nasional-pendidikan.wpd
[4] Op. Cit, hal xxi
[5] M. Qurais Sihab, Tafsir Al- Misbah Jilid 2, hal 225
[6] Allamah Faqih Imani, tafsir nurul Qur’an, jilid 10, hal : 334-335