I.
PENDAHULUAN
Pembicaraan tentang tujuan pembinaan hokum islam atau Maqashid
al-tasyri’ merupakan pembahasan
penting dalam hokum islam yang tidak luput dari perhatian ulama serta pakar
hokum islam. Sebagian ulama menempatkannya dalam bahasan ushul fiqih, dan ulama
lain membahasnya sebagai bahasan tersendiri serta diperluas dalam “Filsafat
Hukum Islam”.
II.
PEMBAHASAN
Bila diteliti semua suruhan dan larangan allah dalam al-Qur’an, begitu
pula suruhan dan larangan nabi dalam sunah yang terumuskan dalam fiqih, akan
terlihat bahwa semuanya mempunyai tujuan tertentu dan tidak ada yang sia-sia.
Semuanya mempunyai hikmah yang mendalam, yaitu sebagai rahmat bagi umat manusia[1], sebagai
mana ditegaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an, diantaranya dalam surat
al-Anbiya(21): 107, tentang tujuan nabi Muhammad diutus:
“Tidakalah maksud kami mengutusmu, kecuali menjadi rahmat bagi seluruh
alam”
Tujuan Syar’i dalam mensyari’atkan ketentuan-ketentuan hokum kepada
orang-orang mukalap adalah dalam upaya mewujudkan kebaikan-kebaikan bagi
kehidupan mereka, baik dalam ketentuan-ketentuan hokum yang dapat memelihara
kepentingan hidup manusia dengan menjaga dan memelihara kemaslahatan mereka,
maupun ketentuan hokum yang memberi peluang bagi mukalaf untuk memperoleh
kemudahan kemudahan dalam keadaan mereka sukar untuk mewujudkan
ketentuan-ketentuan dharuri.
Seandainya norma-norma tersebut tidak dipatuhi, niscaya mereka akan
dihadapkan kepada Mafsadah dan berbagai kesukaran. Ketentuan-ketentuan
dharuri itu secara umum bermuara pada upaya memelihara lima hal, yaitu Agama,
jiwa, akal, harta dan keturunan.[2]
Manusia selalu dihadapi berbagai masalah dalam hidupnya.
Jarang sekali orang dapat melewatkan waktunya tanpa menghadapi suatu masalah,
besar atau kecil. Dan untuk mengantisipasi semua itu maka para ilmuan
mengadakan penelitian untuk mengetahui darimana, sejauh mana, dan bagaimana cara menyelesaikan
masalah tersebut..
Pembahasan
A.
Sumber masalah
Seperti yang telah dikemukakan penelitian pada dasarnya
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data yang antara lain untuk
memecahkan masalah. Untuk itu setiap penelitian yang akan dilakukan harus
selalu berangkat dari masalah.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang
seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek,
antara aturan dengan pelaksanaan, dan antara rencana dengan pelaksanaan.
Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat
diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan
kenyataan, antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan, adanya
pengaduan,dan kompetisi[1].
Sekurang kurangnya ada tiga sumber awal untuk memperoleh tema mengenai
suatu permasalahan penelitian, yaitu:
a. Diri
sendiri
Yaitu dengan mendasarkan pada pengetahuan dari pengalaman
ataupun pengamatan diri sendiri terhadap hal yang dapat dijadikan permasalahan
penelitian.
b. Orang
lain
Yaitu mendasarkan pada
pengetahuan dari pengamatan atau pengalaman orang lain mengenai hal yang
dapat dijadikan permasalahan penelitian. Seperti dengan cara bertukar pikiran
dalam suatu diskusi dengan orang-orang yang ahli dalam hal tertentu.
c. Tulisan
atau karangan ilmiyah
Yaitu dengan membaca secara kritis berbagai tulisan atau
karangan ilmiah, maupun laporan hasil penelitian mengenai hal yang dapat
dijadikan focus perhatian penelitian[2].
I.
PENDAHULUAN
Adalah suatu hal yang sangat menarik untuk
kembali mempertanyakan tema di atas sehingga dengannya dapat diambil sebuah
pengetahuan yang membuahkan pemahaman yang lebih atasnya.
Pendidikan sebagai sebuah proses
sosialisasi. Keingin-tahuan tentangnya dapat dikaji dengan mengawalinya
memunculkan beberapa pertanyaan, antara lain : apa yang dimaksud dengan
pendidikan dan sosialisasi ? apakah proses sosialisasi itu bermula dari dirinya
(peserta didik) ? atau ia adalah respon dari sesuatu di luar dirinya (keluarga,
masyarakat, atau lingkungan tempat ia beraktivitas) ?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di
atas , selanjutnya akan dipaparkan dalam bab pembahasan yang tentunya hal ini
membutuhkan peran aktif semua untuk mendiskusikannya.
II.
PEMBAHASAN
a. Pengertian Pendidikan Dan Sosialisasi
Menurut Muhibbin Syah, M.Ed. dalam
bukunya ”Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru”. Mendefinikan
pendidikan sebagai ”Sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga
orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai
dengan kebutuhan”. [1]
Kalau kita mencermati definisi di atas
dijelaskan bahwa pendidikan adalah rangkaian sebuah proses atau bisa jadi
proses itu sendiri yang berimplikasi logis terhadap pengetahuan, pemahaman, dan
juga tingkah laku.peserta didik. Ada hal yang menarik yang dikemukakan oleh DR.
H. Syaiful Sagala, M.Pd dalam bukunya ”Administrasi Pendidikan
Kontemporer” beliau mengatakan ”Pendidikan
mengandung pengertian yang luas dari pengajaran, karena sasaran pendidikan
tidak hnya mencakup pengembangan intelektualitas saja, akan tetapi lebih lebih
ditekankan pada proses pembinaan kepribadian anak (peserta didik) secara
menyeluruh”. [2]
Sedangkan sosialisasi dapat dipahami
sebagai sebuah proses pengaruh, dipengaruhi, dan mempengaruhi aktivitas yang
dengannya setiap individu dapat menyesuaikan diri. Walaupun pemahaman tersebut
tersebut tidak memiliki rujukan yang jelas namun hal itu sangat menarik untuk
didiskusikan.
Pemahaman tersebut tetap mengacu pada
sebuah proses yakni sebuah upaya dalam berinteraksi, baik itu interaksi untuk
dipahami atau memahami terhadap suatu objek oleh subjek atau subjek atas objek.
Kalau dikaitkan dalam ranah pendidikan hal ini memberikan pemahaman adanya
proses interaksi antara dirinya dengan dirinya maksudnya adalah upaya untuk
menggali potensi-potensi yang ada dalam dirinya untuk dapat diaktualkan
atau dirinya dengan sesuatu yang berada
di luar dirinya seperti keluarga, masyarakat, dan lingkungannya sehingga
mempengaruhi cara berpikir, memahami, kemudian bertindak.
Satu hal yang perlu untuk dicamkan adalah
bahwa yang menjadi subjek sekaligus objek dalam proses sosialisasi adalah diri,
yang dengannya terbentuk kepribadian yang mencerminkan jati diri yang
termanifestasi dalam aktualisasi diri (tingkah laku).
Dengan penjelasan singkat di atas,
setidaknya dapat menjawab beberapa pertanyaan dalam bab pendahuluan tentang apa
yang diinginkan oleh pendidikan dan sosialisasi. Sedangkan penjelasan atas
pertanyaan selanjutnya adalah bahwa proses sosialisasi memang harus bermula
dari diritanpa menafikan proses yang bersumber dari luar dirinya. Dalam sebuah makalah
”Sosiologi Pendidikan” oleh Gamar Al-Haddar dijelaskan, dimana
menurut hemat penyusun hal tersebut merupakan proses sosialisasi yang merupakan
respon dari sesuatu di luar dirinya. Dalam makalah tersebut dikatan bahwa agen
sosialisasi meliputi : keluarga, teman bermain, sekolah, dan media massa. [3]
Selanjutnya pemaparan agen sosialisasi
tersebut adalah sebagai berikut :
Ø Kelurga merupakan agen
pertama dalam sosialisasi yang ditemui anak pada awal perkembangannya.
Ø Kelompok teman sebaya
sebagai agen sosialisasi di mana si anak akan belajar tentang pengaturan peran
orang-orang yang berkedudukan sederajat.
Ø Sekolah sebagai agen
sosialisasi merupakan institusi pendidikan di mana anak didik selama di sekolah
aspek kemandirian, prestasi, universalisme.
Ø Agen sosialisasi
terakhir adalah media massa di mana melalui media massa sosialisasi pesan-pesan
dan simbol-simbol yang disampaikan oleh berbagai media akan menimbulkan
berbagai pendapat pula dalam masyarakat. [4]
Apa yang dipaparkan di atas sangat
berpengaruh besar dalam kedirian anak didik dalam membentuk kepribadiannya dan
bersikap (tingkah laku).
Untuk selanjutnya sebagai pelengkap makalah
ini, penyusun akan membahas hal-hal yang menjadi sub tema dari materi kali ini
dintaranya, perkembangan kepribadian dan kedirian, kepribadian sebagai faktor
penyebab tingkah laku, dan kedirian dan kepribadian sebagai produk proses
sosialisasi.
b. Perkembangan Kedirian Dan Kepribadian
Menurut Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc dalam
bukunya ”Sosiologi Pendidikan” mengatakan bahwa ”Memahami diri
merupakan awal untuk memiliki percaya diri dan harga diri, dimana selanjutnya
seseorang akan memiliki jati diri yang sebenarnya sebagai seorang manusia”. [5]
Dalam menjelaskan tentang diri
(perkembangan dalam mengenal diri), beliau sebelumnya mengutip sebuah pendapat
dari Shomali, 1996:26, dikatakan bahwa ”salah satu manfaat praktis
dalam mengenal diri adalah memungkinkan seseorang berkenalan akrab dengan
kemampuan-kemampuan dan bakat-bakat pribadinya. Ini amat membantu bagi
seseorang dalam kehidupannya dan dapat mencegahnya, misalnya, dari memiliki
bidang studi atau pekerjaan yang secara inheren tidak sesuai dengan
kemampuan-kemampuan yang Tuhan anugerahkan kepadanya”. [6]
Dari pendapat kedua tokoh di atas, dapat
diambil dua hal yang dengan dua hal tersebut semoga penyusun dapat lebih mudah
untuk dapat memahami perkembangan kepribadian dan kedirian. Yang penyusun
maksud dari dua hal tersebut adalah, pertama, memahami diri adalah
langkah untuk memupuk rasa percaya diri, harga diri, serta jati diri,sedangkan
yang kedua, memupuk rasa percaya diri, harga diri, serta jati diri hanya
bisa dilakukan setelah orang tersebut mampu untuk mengenali kemampuan-kemapuan
dan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.
Harga diri dan percaya diri yang
berkembang sedemikian rupa pada akhirnya memang ditentukan seberapa jauh
persepsi seseorang tentang dirinya, dimana nantinya perilaku ditampilkan dari
percaya diri dan harga diri tersebut menimbulkan penilaian dari orang lain,
hasil akhir dari penilaian orang tersebutlah akan menjadi jati dirinya, oleh
karena itu perkembangan harga diri dan percaya diri akan bermuara pada jati
diri, dimana seterusnya akan memunculkan kepribadian, identitas diri atau
kedirian dan keunikan diri.[7]
Tentang kepribadian, identitas diri, dan
keunikan diri Watloly, 2001:125 menjelaskan bahwa, kepribadian,
yakni manusia dilihat sebagai satu kesatuan objek dengan skala nilai pada
setiap saat. Faktor kepribadian ini juga mempunyai belbagai pengalaman dan unsur-unsur
serta tahap-tahap pembentukannya dari waktu ke waktu. Identitas Diri atau
Kedirian. Hal ini dapat dilihat dari kesatuan historis dan perkembangan
pribadi seseorang yang terlibat dalam proses pembentukannya dari waktu ke
waktu. Sedangkan Keunikan Diri menunjukkan bahwa manusia merupakan
anggota yang unik tiada duanya dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya.[8]
c. Kepribadian Sebagai Faktor Penyebab
Tingkah Laku
Kepribadian merupakan sifat dan tingkah
laku yang membedakannya dengan orang lain. dalam pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan hal-hal yang melahirkan atau
membentuk kepribadian yang mana bentukan itu bisa dikarenakan sesuatu yang
berasal dari dalam dirinya (intern) dan juga sesuatu yang membentuk berasal
dari sesuatu di luar dirinya (ekstern). Cuma ada hal yang menarik untuk
dipertanyakan adalah sejauhmana faktor bentukan internal itu tidak akan
terkontaminasi oleh faktor eksternal ? landasan kenapa pertanyaan ini muncul
adalah karena manusia adalah makhluk sosial. Pertanyaan selanjutnya adalah,
secara umum faktor mana, yang lebih dominan membentuk kepribadian manusia ?
faktor internalkah ? atau faktor eksternal ? sehingga kepribadian ini nantinya
akan berimlplikasi logis terhadap tingkah laku.
d. Kedirian Dan Kepribadian Sebagai Produk
Proses Sosialisasi
Untuk mengambil kesimpulan, apakah
kedirian dan kepribadian merupakan produk dari proses sosialisasi, hal tersebut
pasti dengan sendirinya akan terjawab. Dimana sebuah proses yang telah
dilakukan dalam pengenalan diri terhadap dirinya maupun pengenalan diri melalui
sesuatu diluar dirinya adalah sebuah proses sosialisasi.
III.
PENUTUP
Sebagai kesimpulan dari penjabaran yang
telah dikemukakan di atas adalah bahwa sebuah proses pembentukan karakter anak
didik merupakan hasil dari sebuah proses sosialisasi pendidikan, baik
sosialiasi langsung atau tidak langsung, yang pasti selama terjadi interaksi
yang saling pengaruh, dipengaruhi, dan mempengaruhi suatu proses pengenalan
diri, meningkatkan percaya diri atau jati diri dan pambentukan kepribadian akan
terus berlangsung. Selagi ada proses maka semuanya bersifat dinamis, dinamis
berarti terus selalu ada perubahan, dan adalam dunia ciptaan yang abadi
hanyalah perubahan.
[1]. Muhibbin Syah, M. Ed. “Psikologi
Pendidikan Dengan Pendekatan Baru”. Hal.12.
[2]. DR. H. Syaiful Sagala, M.Pd
“Administrasi Pendidikan Kontemporer”. Hal. 5
[3]. Gamar Al-Haddar. Dalam Makalah berjudul
“Pendidikan Sebagai Proses Sosialisasi”.
[4]. Orcit.
[5]. Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc. ”Sosiologi
Pendidikan”. Hal. 71
[6]. Idem.
[7]. Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc. ”Sosiologi
Pendidikan”. Hal. 70
[8]. Lihat Drs. H. Muhyi Batubara, M.Sc.
”Sosiologi Pendidikan”. Hal. 70-71
Pendahuluan
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan
satu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya
serta kemungkinan pencapaian hasil yang oftimal, tetapi juga perlu disesuaikan
dengan system pendidikan dan system pemgelolaan pendidikan yang dianut serta
model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam
system pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan
yang desentrelesasi. Model pengembangan yang sifatnya subjek akademis berbeda
dengan kurikulum humanistic, teknologis dan rekonstruksi social.[1]
Pembahasan
Untuk melakukan pengembangan kurikulum ada berbagai model pengembangan
kurikulum yang dapat dijadikan acuan atau diterapkan sepenuhnya, diantaranya
adalah:
- Model
Administratif
Model administratife atau garis-komando (line-Staff) merupakan pola
pengembangan kurikulum yang paling awal dan mungkin yang paling dikenal. Model
pengembangan kurikulum ini berdasarkan pada cara ker ja atasan-bawahan
(top-down) yang dipandang efektif dalam pelaksanaan perubahan kurikulum.
Model administrasi/garis komando memiliki
langkah-langkah sebagai berikut:
Ø
Administrator Pedidikan/ Top Administrative
Officers (pemimpin) membentuk komisi pengarah.
Ø
Komisi Pengarah (Steering Comittee) bertugas
merumuskan rencana umum, mengembangkan prinsip-prinsip sebagai pedoman, dan
menyaipkan suatu pernyataan filosofi dan tujuan-tujuan untuk seluruh wilayah
sekolah.
Ø
Membentuk komisi kerja pengembangan kurikilum yang
bertugas mengembangkan kurikulum secara operasional mencakup keseluruh komponen
kurikulum dengan mempertimbangkan landasan dan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum.
Ø
Komisi pengarah memeriksa hasil kerja dari komisi
kerja dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu bila dianggap tidak perlu.
Karena pengembangan kurikulum model administratif ini berdasarkan konsep,
inisiatif, dan arahan dari atas kebawah, maka akan membutuhkan waktu
bertahun-tahun agar dapat berjalan dengan baik. Hal inidisebabkan adanya
tunututan untuk mempersiapkan para pelaksana kurikulum tersebut.
Dari uraian mengenai model pengembangan kurikulum administratifm kita dapat
menandai adanya dua kegiatan didalamnya:[2]
a.
Menyiapkan seperangkat dokumen kurikulum baru, dan
b.
Menyiapkan instalasi dan implementasi dokumen.
Dengan kata lain, midel administratif/
garis-komando membutuhkan kegiatan pemyiapan para pelaksana kurikulum melalui
berbagai bentuk pelatihan agar dapat melaksanakan kurkulum dengan baik.
- Model
Grass-Roots
Model pengembangan kurikulum ini merupakan lawan/kebalikan dari model
pertama inisiatif dan pengembangan kurikulum bukan datang dari atas tetapi dari
bawah. Bisa dikatakan model administratif bersifat top-down (atasan-bawahan),
sedangkan model grass – roots adalah bottom – up (dari bawah keatas). Lebih
lanjut juga bisa diketahui bahwa model pengembangan kurikulum yang pertama
digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan / kurikulum yang bersifat
sentralisasi, sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem
pendidikan yang bersipat desentralisasi.
Dalam model pengembangan yang bersifat grass-roots seorang (guru) dapat
mengupayakan pengembangan komponen- komponen kurikulum dapat keseluruhan, dapat
pula sebagian dari keseluruhan komponen kurikulum atau keseluruhan dari seluruh
komponen kurikulum. Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah
perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah
yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling
kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.
- Model
Beauchamp
Pengembangan kurikulum dengan menggunakan metode beauchamp memiliki lima
memiliki lima bagian pembuat keputusan. Lima tahap tersebut adalah:
- Memutuskan arena pengembangan
kurikulum, suatu keputusan yang menjabarkan ruang lingkup upaya
pengembangan.
- Menetapkan personalia, yaitu
siapa-siapa sajakah yang ikut terlibat dalam pengembangan kurikulum.
- Organisasi dan prosedur pengembangn
kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam
merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi dan
pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan
keseluruhandesain kurikulum.
- Implementasi kurikulu, yakni kegiatan
untuk menerapkan kurikulum seperti yang sudah diputuskan dalam ruang
lingkup pengembangan kurikulum.
- Evaluasi kurikulum.
- Model
arah terbalik Taba
Sesuai dengan namanya, model pengembangan kurikulum ini terbalik dari yang
lazim dilaksanakan, yakni dari biasanya dilakukan secara deduktif menjadi
induktif, dengan urutan:
- mengadakan unit-unit eksperimen
bersama guru-guru
- menguji unit eksperimen
- mengadakan refisi dan konsolidasi
- pengembangan keseluruhan kerangka
kurikulum
- implementasi
dan diseminasi
- Model
Rogers
Cari Rogers adalah seorang ahli psikologi yang berpandangan bahwa manusia
dalam proses perubahan mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembangsendiri.
Berdasarkan pandangan tentang manusia maka rogers mengemukakan model
pengembangan kurikulum yang disebut dengan model Relasi Interpersonal Rogers
Ada empat langkah pengembangan kurikulum model rogers diantaranya adalah:
- pemilihan satu sistem pendidikan
sasaran
- pengalaman kelompok yang intensif
bagi guru
- pengembangan satu pengalaman kelompok
yang intensif bagi satu kelas atau unit pelajaran.
- Melibatkan orangtua dalam pengalaman
kelompok yang intensif.
Rogers lebih mementingkan kegiatan pengembangan kurikulum daripada rencana
pengembangan kurikulum tertulis, yakni melalui aktivitas dan interaksi dalam
pengembangan kelompok intensif yang terpilih.
- Model
Demonstrasi
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass-rotss, datang dari bawah.
Model ini diprakarsai oleeh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama
dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya
bersekala kecil, hanya mencakup satu atau beberapa sekolah, satu komponen
kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.
Menurut Smith, Stanley, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini:[3]
·
Sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa
sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan
kurikulum.
·
Bentuk kedua ini kurang bersifat formal. Beberapa
guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengembangkan
penelitian dan mengembangkan sendiri. Mereka mencoba menggunakan hal-hal yang
lain yang berbeda dengan yang berlaku.
- The
Systematic Action-Research Model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum
meerupakan perubahan sosial. Hal itu mencakup suatu proses yang melibatkan
kepribadian ornang tua, siswa guru, struktur sistem sekolah, pols hubungan
pribadi dan kelompok dari sekolah dan masyarakat. Sesuai dengan asumsi tersebut
model ini menekankan pada tiga hal: hubungan insani, sekolah dan organisasi
masyarakat, serta wibawa dari pengetahuan propesional.
Penyusunan kurikulum ini harus memasuka pandangan dan harapan-harapan
masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalha dengan prosedur
action research:
o
Mengadakan kajian secara seksama tentang
masalah-masalh kurikulum, berupa pengumpulan data bersifat menyeluruh, dan
mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengruhi masalah
tersebut.
o
Implementa si dari keputusan yang diambil dalam tindakan
pertama. Tindakan ini segera diikutioleh kegiatan pengumpulan data dan
fakta-fakta
- Emerging
Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, serta nilai-nilai
efisiensi efektifitas dalam bisnis. Juga mempengruhi perkembanagan model-model
kurikulum. Tumbuh kecendrungan-kecendrungan baru yang didasarkan atas hal itu
diantaranya:
o
Menekankan kepuasan prilaku atau kemampuan
o
Berasal dari gerakan efesiensi bisnis
o
Suatu model pengembangan kurikulum dengan
memanfaatkan komputer.
Penutup
Dalam pengembangan model kurikulum, sedapat mungkin didasarkan pada
paktor-paktor yamg konstan, sehingga ulasan mengenai model-model yang dibahas
dapat dilakukan secara konsisten. Faktor-fajtor konstan yang dimaksud adalah
dalam pengembangan model kurikulum perlu didasarkan pada tujuan, bahan
pelajaran, proses belajar mengajar, dan evaluasi yang tergambarkan dalam proses
pengembangan tersebut.[4]
Demikianlah pembahasan makalah yang cukup singkat dan sederhana ini semoga
bisa bermanf’at bagi kita semua...Amien
[1] Prof. Dr. Nana syaodih
sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, 2001, Remaja Rosdakarya, Bandung,
Hal. 161
[2] Dr, Dimyati, Drs.
Mudjiono, Belajar Dan Pembelajaran, 2006, PT. Rineka Cipta, Jakarta,
Hal. 281
[3]
Prof. Dr. Nana syaodih sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, 2001, Remaja
Rosdakarya, Bandu, Hal.165
[4] Dr. Abdullah idi, M.Ed, Pengembangan
Kurikulum teori dan Praktek, 2007, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, Hal.154
Imam Syafi'i salah seorang
Ulama Fiqih (hukum Islam) yang terkenal dan mempunyai pengikut yang ramai di
Negara-Negara yang ramai penduduk Islamnya terutama di Indonesia dan Malaysia.
Beliau di lahirkan pada tahun 150 H di Gaza. Imam Syafi'i menghabiskan seluruh
hidupnya untuk mengkaji hal-hal yang berkenaan Hukum Islam.
Disamping itu beliau juga
salah seorang ahli sya'ir yang terkenal dengan sya'irnya yang indah dan berisi.
Syairnya-syairnya ibarat untaian mutiara yang gemerlapan, penuh dengan
ungkapan-ungkapan balaghah, hikmah, dan nasihat yang bernilai tinggi. Imam
Syafi'i pencinta Ilmu Pengetahuan semenjak kecil, Beliau biasa mengkhatamkan
al-Quran sebanyak enam puluh kali, terutama dalam bulan Ramadhan, terutama
dibacanya ketika sholat. Imam Syafi'i seorang yang suka berderma dari apapun
harta yang dimilikinya.
Hidupnya sangat sederhana
terutama dalam makan dan minum. Beliau tidak pernah makan kenyang semenjak usia
enam belas tahun. Karena kekenyangan akan menambah berat badan, mengeraskan
hati, menumpulkan otak, membawa mengantuk dan malas beribadah, demikian kata
Imam Syafi'i.
Imam Syafi'i wafat selepas
magrib malam Juma'at, akhir bulan Rajab, dan jenazah beliau dikebumikan pada
hari Jum'at, tahun 204 Hijriyah di Mesir. Ramai Ulama yang mengakui kejujuran,
keadilan, kezuhudan, kewara'an, dan akhlak yang mulia yang dimiliki oleh Imam
Syafi'i. Selama hidupnya penuh dengan petunjuk dengan sifat taqwanya yang
tinggi dan hidupnya jauh dari kesesatan dan kejahatan.
PENDAHULUAN
Masalah pendidikan bukan masalah yang sepele , karena pendidikan memiliki
peran yang sangat strategis dan krusial dalam mendukung dan bahkan dalam
mempercepat pembentukan masyarakat madani demokratis berkeadaban yang menjadi
salah satu karakter terpenting masyarakat madani Indonesia.[1] Menurut azyumardi azra, peran pendidikan
adalah mempersiapkan anak bangsa, baik secara indipidual maupun sosisal, agar
memiliki kemampuan , keterampilan, etos dan motivasi untukberpartisipasi aktif
dalam aktualisasi dan institusionalisasi masyarakat madani.[2]
Terlepas dari semua itu, kebanyakan orang tidak sesuai menilai tujuan
pendidikan yang ada atau bahkan mungkin tidak mengetahuinya. Dalam peraturan
pemerintah republic Indonesia no 19 tahun 2005 tentang standar nasional
pendidikan bab 2 pasal 4, standar pendidikan nasional bertujuan menjamin mutu
pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.[3] Agak
berbeda menurut prof.DR. Azyumardi azra, tujuan akhir pendidikan adalah
mempersiapkan indipidu anakl didik dan warga masyarakat yang m emiliki
kemammpuan untuk mengaktualisasikan, melembagakan dan mengembangkan masyarakat
madani Indonesia.[4]
Lantas, bagaimanakah tujuan pendidikan menurut Al-Qur’an yang menjadi
pedoman serta pegangan umat islam dalam kesehariannya?
PEMBAHASAN
#x»yd ×b$ut/ Ĩ$¨Y=Ïj9 Yèdur ×psàÏãöqtBur úüÉ)GßJù=Ïj9 ÇÊÌÑÈ
“Ini
adalah penerang bagi seluruh manusia dan petunjuk bagi orang-orang yang
bertaqwa” (QS. Al- Imran : 138)
dalam ayat diatas “Ini adalah penernang bagi seluruh manusia” memberi
kesan kepada manusia secara umum untuk menerima dari penjelasan tentang
ayat-ayat tuhan yang terhampar dibumi, baik yang tampak maupun yang taktampak,
sehingga keragu-raguan manusia dalam mempelajari semua kejadian dialam raya
dapat ditemukan (terjawab) dan berganti menjadi pemahaman yang sempurna tentang
sunatullah.
Pernyataan Allah: “Ini adalah penerang bagi seluruh manusia” juga
mengandung makna bahwa allah tidak menjatuhkan sanksi kepada sebelum manusia
mengetahui sanksi itu.dia tidak mendadak manusia dengan siksanya, karena ini
adalah petunjuk jalan bagi peringatan. “Dan petunjuk bagi orang-orang yang
bertakwa” selain untuk manusia secara
umum ayat ini juga menunjukan bahwa penerangan yang diberikan tuhan dikhususkan
pula untuk orang-orang yang bertaqwa, berfungsi sebagai petunjuk bagi yang
memberi bimbingan (masa kini dn akan datang) menuju arah yang benar. Yaitu bagi
orang-orang yang bertakwa, sehingga tidak heran diantara mereka ada yang mampu
mengambil hikmah, dan pelajaran dari sunatullah yang berlaku dalam masyarakat.[5]
wur (#qãZÎgs? wur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu
orang-orang yang beriman.
Ayat ini berkenaan tentang peristiwa kekalahan diperng uhud sehingga
mereka banyak yang merasa lemah dan bersedih padahal semua itu adalah
sunatullah dan allah memberikan hiburan kepada mereka dengan kalimat “padahal
kamulah orang-orang yang tinggi derajatnya” dan yang menerima derajat yang itu
bagi mereka yang tetap beriman kepada allah dn rasulnya.
Ó£JptC ãAqß§ «!$# 4 tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£Ï©r& n?tã Í$¤ÿä3ø9$# âä!$uHxqâ öNæhuZ÷t/ ( öNßg1ts? $Yè©.â #Y£Úß tbqäótGö6t WxôÒsù z`ÏiB «!$# $ZRºuqôÊÍur ( öNèd$yJÅ Îû OÎgÏdqã_ãr ô`ÏiB ÌrOr& Ïqàf¡9$# 4 y7Ï9ºs öNßgè=sVtB Îû Ïp1uöqG9$# 4 ö/àSè=sVtBur Îû È@ÅgUM}$# ?íötx. ylt÷zr& ¼çmt«ôÜx© ¼çnuy$t«sù xán=øótGó$$sù 3uqtFó$$sù 4n?tã ¾ÏmÏ%qß Ü=Éf÷èã tí#§9$# xáÉóuÏ9 ãNÍkÍ5 u$¤ÿä3ø9$# 3 ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# Nåk÷]ÏB ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $JJÏàtã ÇËÒÈ wur (#qãZÎgs? wur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ
Ayat diatas menurut sayid Quthub begitu mengagumkan, Al-Qur’an dalam
menggambarkan keadaan orang-orang pilihan, sangatlah indah dalam menggambarkan
keadaan dan sifat kelompok terpilih ini, yaitu dengan cuplikan kalimat ”Mereka
keras terhadap orang-orang kafir,namun kasih sayang antar mereka” dan
cuplikan yang menggambarkan mereka dalam ibadah yaitu “engkau melihat mereka
ruku dan sujud” lalu yang menggambarkan hati mereka yaitu dengan kalimat “mencari
karunia allah dan keridhoan-Nya” selanjutnya yang menggambarkan dampak
serta arah ilahi yang dituju , yaitu “tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka dari bekas sujud”
Setiap orang mempunyai potensi berupa kekuatan, namun yang menjadi
perbedaan adalah orang saleh akan menggunakan kekuatan dan potensinya dengan
tepat, bila dibandingkan dengan potensi yang diberikan kepada orang –orang yang
ingkar pada allah itu pasti disalah gunakan. Oleh karena itu sarana-sarana yang
berada di dunia ini merupakan ranhmat bagi orang-orang orang-orang yang
menggunakannya dengan baik.
Sarana yang ada didunia ini bagi orang saleh akan menjadi hubungan
dirinya dengan allah semakin harmonis dan ini ditandai dengan mereka mendirikan
shalat, dan juga hubungan mereka dengan sesame manusia semakin baik ini
ditandai dengan menunaikan zakat.
Amar ma’ruf dan nahyi munkar dipandang sebagai landasan untuk membangun
masyarakat yang aman dan sehat. Orang-orang yang saleh tidak akan
menyia-nyiakan pemberian allah berupa kekuatan, kemudian ia mendirikan shalat,
membayar zakat serta mengerjakan amar ma’ruf dan nahyi munkar.sebagai mana
firman-Nya:
$tBur tûïÏ%©!$# bÎ) öNßg»¨Y©3¨B Îû ÇÚöF{$# (#qãB$s%r& no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4q2¨9$# (#rãtBr&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ (#öqygtRur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# 3 ¬!ur èpt6É)»tã ÍqãBW{$# ÇÍÊÈ
(yaitu) orang-orang yang
jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari
perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Pada poin ini (Amar ma’ruf dan nahyi munkar) tentunya dengan menggunakan kelembutan atau cara yang
efektif terhadap sebuah masalah, muingkin kita dapat mengambil contoh ketika
Rasulallah Saw suatu ketika didatangi oleh seorang pemuda dan ia berkata “Wahai
Rasulallah! Izinkan saya berzina” mendengar permintaan itu orang-orang
berteriak dan memprotesnya, tetapi Rasulallah dengan tenang berkata ”mendekatlah
kemari anak muda” anak muda itupun mendekat dan duduk dihadapan rasulallah,
kemudian rasul berkata dengan lemah lembut “apakah kamu suka jika ibumu
dizinahi orang?” anak muda itupun menjawab “tentusaja tidak, semoga kau
menjadi tebusanmu!” rasulpun berkata, “ begitu juga , orang lainpun
tidak suka jika ibunya diperlakukan seperti itu” kemudian, beliau bertanya
lagi kepada pemuda itu: Apakah ia suka kalau anak perempuanya dijinahi
orang. Anak muda menjawab “tidak” maka rasulpun mengatakan bahwa
orang lainpun tidak suka kalau anak perempuannya dizinahi orang, rasul bertanya
lain padanya: bagai mana kalau yang dizinahi saudara perempuanmu? Maka
pemuda itu menjawab “tidak” (seraya menyesali dan menyadari jika
permintaannya untuk berbuat zina itu salah). Kemudian rasul meletakan tangannya
kedada anak muda tadi seraya berdoa untuknya “ya Allah! Sucikanlah hatinya, ampunilah
dosanya, dan jagalah agar ia tidak terkena kotoran perbuatan keji” sejak
saat itu yang paling dibenci pemuda itu adalah perbuaatan zina.[6]
Dalam pembahasan yang disebutkan diakhir ayat mengatakan: “ Dan kepada
allah semua urusan kembali” fase ini berarti karena semua awal kekuatan dan
kemenangan adalah dari sisi allah maka akhir segala sesuatu akan kembali juga
pada-Nya.
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.
Disisni menyebutkan kata zin didahulukan dari kata insan karena jin lebih
dahulu diciptakan dari pada manusia. Thabathabai memahami huruf lam pada ayat
ini diartikan Agar supaya, yakni tujuan penciptaan manusia dan jin
adalah untuk menyembah –Ku. Beliau berpendapat demikaian karena penciptaan
pasti ada tujuan, sehingga kata tujuan atau agar supaya adalah sesuatu yang
digunakan oleh yang bertujuan itu untuk menyempurnakan apa yang belum sempurna
baginya atau menanggulangi kebutuhan atau kekurangannya. Tenti saja hal
ini mustahil bagi allah. Ibadah adalah
tujuan dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali kepada penciptaan
itu.
Bila kita kaji kembali pembahasan yang panjang diatas dapat kita
ambil kesimpulan, bahwa tujuan dari
pendidikan menurut alqur’an yaitu:
- mendidik jiwa tauhid agar tumbuh rasa kehambaan ytang tinggai terhadap allah. Ini dibuat dengan membawa manusia berfikir tentang kebesaran allah, kuasa allah, kehebatan allah, kebaikan dan rahmat allah serta nikmatnya.
- mendidik hati agar rasa rindu dengan syurga allah, rahmat dan kemampuan allah , bantuan allah dll. Semua itu di lakukan dengan menyebutkan khabar-khabar gembira tentang perkara-perkara tersebut.
- mendidik iman dan taqwa dihati
- mendidik manusia agar melakukan amal saleh dan berakhlak mulia. Untuk itu al-Qur’an banyak menceritakan sejarah hidup para nabi, rasul dan orang-orang saleh yang patut dijadikan panduan hidup manusia.
- mendidik manusia agar menghindari sift-sifat jahat dan agar selamat dari api neraka.
- mendidik manusia agar memiliki sikap hidup yang
khusus sebagai seorang islam, agar selamat dunia dan akhirat.
PENUTUP
Al-Qur’an meletakan kedudukan manusia sebagai khalifah allah dimuka
bumi(al-Baqarah:30) esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh
allah untuk memimpin dan mengelola alam, dalam hal ini manusia bertugas untuk
memelihara dan memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara
maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yang menopang
untuk terwujudnya jabatan sebagai khalilfah tersebut.
[1]
Menuju masyarakat madani, karangan frop. DR. Azyumardi azra, 1999,
Bandung, Rosda karya.
[2]
Prof. DR. Azyumardi azra, paradigma baru pendidikan nasional, hal xxi
[3]
pp-19-2005-standar-nasional-pendidikan.wpd
[4]
Op. Cit, hal xxi
[5]
M. Qurais Sihab, Tafsir Al- Misbah Jilid 2, hal 225
[6]
Allamah Faqih Imani, tafsir nurul Qur’an, jilid 10, hal : 334-335
Subscribe to:
Comments (Atom)
