MANUSIA DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF

Posted by Unknown On Tuesday, 8 November 2011 1 comments


A.    Pendahuluan
Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa arabnya, yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain.[1]
Pada kesempatan kali ini pemakalah membahas manusia dalam berbagai perspektif ; Ilmu pengetahuan, Filsafat dan Islam. Tujuan yang hendak dicapai dalam pembahasan ini dan hubungannya dengan filsafat pendidikan islam adalah sebagai dasar bagi perumusan tujuan pendidikan dan memberi gambaran pendekatan yang harus ditempuh dalam proses belajar mengajar dan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pendidikan. Hal ini pentig, mengingat manusia dalam kegiatan pendidikan merupakan subjek dan objek yang terlibat di dalamnya.

B.     Pembahasan
1.      Manusia Menurut Pandangan Ilmu Pengetahuan
Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :
Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus.
Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus.
Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis).
Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.
Manusia pada hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan mahluk lain.
Manusia sebagai salah satu mahluk yang hidup di muka bumi merupakan mahluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instinctif.
Dibanding dengan makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan.kelebihan itu membedakan manusiadengan makhluk lainnya. Kelebihan manusia adalah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, baik di darat, di laut, maupun di udara. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang bergerak di darat dan di laut, namun tetap saja mempunyai keterbatasan dan tidak bisa meampaui manusia.
Diantara karakteristik manusia adalah :
a.       Aspek Kreasi
b.      Aspek Ilmu
c.       Aspek Kehendak
d.      Pengarahan Akhlak[2]
2.      Manusi menurut pandangan filsafat
Setidaknya ada empat pandangan yang berbicara mengenai hakikant manusia dalam pandangan filsafat:
a.       Aliran serba Zat
Menyatakan bahwa hakikat manusia adalah zat atau materi. Dari proses kejadiannya, yakni bertemunya sperma laki-laki kedalam sel telur perempuan yang kemudian menjadi janin dan lahir ke dunia. Aliran ini mengatakan bahwa apa yang disebut ruh atau jiwa, pikiran, perasaan (tanggapan, kemauan, kesadaran, ingatan, khayalan, asosiasi, penghayatan dan sebagainya) dari zat atau materi yaitu sel-sel tubuh[3]. Kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya juga berasal dari materi (Pandangan Materialistis). Hal-hal yang bersifat ukhrowi (akhirat) dianggap sebagai khayalan belaka.
b.      Airan Serba Ruh
Merupakan lawan dari aliran serba zat. Mereka mengatakan bahwa yang ada dalam manusia sebenarnya adalah ruh. Sedang zat hanya manifestasi ruh di dunia ini. Hal ini berdasarkan bukti bahwa ruh lebih tinggi nilainya daripada zat.
c.       Aliran Dualisme
Merupakan aliran yang mencoba menggabungkan kedua aliran sebelumnya. Mereka berpendapat bahwa manusia adalah makhluk dualisme, terdiri dari ruh dan badan (Zat). Antara keduanya terjadi hubungan kausalitas. Ruh dan badan berbeda dan tidak bergantung satu sama lain. Degan artian ruh tidak berasal dari badan, begitu pula sebaliknya.
d.      Aliran Eksistensialisme
Aliran yang terakhir ini terfokus kepada mana yang merupakan eksistensi atau wujud dari manusia, apa yang menguasai manusia secara menyeluruh, dan cara beradanya manusiadi dunia ini. Aliran ini berbeda dari tiga aliran sebelumnya. Aliran ini timbul dari pemikiran para ahli filsafat moderen.
3.      Manusia menurut pandangan agama
Menurut islam, bukan sekedar ‘Homo Erectus Berkaki Dua’ yang dapat berbicara dan berkuku lebar. Akan tetapi manusia menurut pandangan islam dapat kita lihat dari al-Qur’an dan al-hadist.
Pertama, al-Qur’an menyebut manusia dengan Insan. Insan (jamaknya al Nas) dapat di lihat dari banyak asal kata. Insan di lihat dari anasa artinya melihat (QS 20:10), mengetahui (QS 4:6), dan meminta izin (QS 24:27). Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan penalaran manusia. Ia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, mengetahui benar dan salah, dan terdorong untuk meminta izin menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Sedang insan dilihat dari kata nasiya berarti lupa, yang berkaitan dengan kesadaran manusia. Jika dilihat dari asal kata al-Uns atau anisa berarti jinak. Dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kaitan erat dengan pendidikan jika di artikan dengan anasa, sebagai makhluk yang pelupa, dan sebagai makhluk yang tidak liar serta memiliki tata aturan etik, sopan santun dan berbudaya.
Kedua, Alqur’an juga menyebut manusia sebagai basyar. Pemakaian kata basyar di beberapa tempat dalam alqur’an seluruhnya memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan kata tersebut adalah anak adam yang bisa makan dan berjalan di pasar-pasar, dan di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan[4]. Dengan demikian kata basyar mengacu pada aspek lahiriyah manusia _bentuk tubuh, makan, minum dan kemudian mati (QS 21:34-35). Sebagaimana di dalam alqur’an disebutkan sebagai jawaban pertanyaan yang dilontarkan kepada rasulallah SAW yang artinya sebagai berikut:
Katakanlah: sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : “bahwa sesungguhnya tuhan kamu itu tuhan yang esa”. Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salehdan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada tuhannya”.
Dari kedua kata di atas insan dan basyar menunjukan dua dimensi manusia. Kata insan menunjukan kepada kualitas pemikiran dan kesadaran, sedang kata basyar digunakan untuk menunjukan pada dimensi alamiah manusia, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya, seperti makan, minum dan kemudian mati.
Lebih lanjut, pandangan islam mengenai proses kejadian manusia dapat dilihat dalam surat al-Mukminun 12-14:
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ

12. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13.  Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14.  Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Dan juga surat ash-Shad ayat 72

#sŒÎ*sù ¼çmçG÷ƒ§qy àM÷xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ÓÇrr (#qãès)sù ¼çms9 tûïÏÉf»y ÇÐËÈ
72. Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".

Di dalam al_Hadit juga dijelaskan mengenai proses kejadian manusia, Rosulallah SAW bersabda: “Bahwasannya seorang kamu dihimpunkan kejadiannya di dalam perut ibu selama 40 hari, kemudian merupakan laqah (segumpal darah) seumpama demikian (selama 40 hari), kemudian merupakan mudgatan (segumpal daging) seumpama demikaian (selama 40 hari). Kemudian allah mengutus seorang malaikat, maka diperintahkan kepadanya (malaikat) empat perkataan dan dikatakan kepada malaikat engkau tuliskanlah amalnya, dan rizkinya dan azalnya, dan celaka atau bahagianya. Kemudian ditiupkanlah kepada makhluk itu ruh” (H.R Bukhari)
Di sini dapat dikatakan bahwa manusia terdiri dari dua substansi yaitu materi yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari tuhan. Berbeda dari malaikat yang hanya merupakan makhluk ruhaniyah (bersifat ruh semata) dan hewan, makhluk yang bersifat jasad material.

C.    Penutup
Demikianlah berbagai pandangan mengenai manusia yang sekiranya dapat membantu di dalam perumusan dasar tujuan pendidikan sebagaimana disebutkan di awal. Dari bahasan ini semoga dapat bermanfaat bagi kita untuk selalu erkaca diri bahwa betapa tinggi posisi kita di alam ini, yang kemudian dapat kita aplikasikan di setiap kegiatan untuk selalu berbuat yang terbaik.


[2] http://www.membuatblog.web.id/2010/02/pengertian-hakikat-manusia.html
[3] Sidi gazalba, Sistematika Filsafat, 1979, Bulan Bintang, Jakarta, Hal 393
[4] Abudinata, Filsafat Pendidikan Islam, 1997, Logos Wacana Ilmu, Ciputat, Hal.30


TEORI EMANSIPASI, FEMINISME DAN KESETARAAN  GENDER
Oleh: Ahmad Jumroni

Pendahuluan
Sejak pertengahan abad ke-19, terminologi Feminisme lambat laun mulai digunakan ketika perempuan mempertanyakan statusnya yang inferior dan menuntut perbaikan posisi sosial mereka. Diantara banyak gerakan Feminisme, Feminisme Material tumbuh sebagai sebuah gerakan yang bertujuan membebaskan kaum perempuan dengan meningkatkan kondisi materialnya. Selama seribu tahun terakhir, banyak bentuk Feminisme muncul. Namun, Feminidme dalam terminologi umum dapat didefinisikan sebagai sebuah advokasi hak-hak bagi perempuan kepada kesetaraan dengan pria dalam bidang kehidupan.[1]  

Pembahasan
1. Pandangan Kaum Feminisme Barat
Para peneliti Feminisme barat secara umum mempunyai keyakinan bahwa pria sangat mendominasi sebuah masyarakat dalam bidang-bidang tertentu,sehingga prermpuan menjadi kelompok yang tertindas dan pasif. Feminisme barat merupakan kelanjutan dari sebuah proses sejarah. Sekarang, Feminisme mengejar emansipasi perempuan dari segala jenis pengekangan, atau apapun yang membuat perempuan terisolasi dari supremasi pria. Dalam perspektif mereka, tidak da disparitas antara pria dan wanita dalam relasinya dengan publik dan privat. Feminisme adalah sebuah ideologi yang murni yang murni sekular. Secara fundamental, Feminisme tak hanya tidak mempunyai konsep tentang prinsip-prisip Illahi tetapi juga bertentangan dengannya. Dalam kasus ini agama malah sering kali dipandang sebagai sumber utama ketidaksetaraan antara pria dan perempuan. Dengan kata lain, seperti prinsip-prinsip Liberalisme sekuler yang lain, teori-teori dan nilai-nilai prinsip yang terutama dari Feminisme lahir dari penciptaan mental hasrat-hasrat manusiawi.



2. Status Perempuan Dalam Islam
Dimasa lampau, pendekatan tanpa nalar dan tidak masuk akal yang disuburkan oleh takhayul, serta spekulasi dan berpikir irasional lainnya, semua itu membuat perempuan dinggap inferior. Dalam menilai status perempuan, pemikiran barat telah melakukan kesalahan besar seperti kesalahan yang dibuat oleh kaum pria pada masa lampau. Pemikiran tersebut telah membentuk opini berdasarkan kepercayaan-kepercayaan irasinal. Hal ini menyebabkan distorsi pemikiran tentang perempuan di kemudian hari di negara-negara barat yang maju dan menyebabkan distorsi yang parah dalam konsep perempuan.[2] 
Pada dasarnya semua manusia setara di hadapan Allah SWT dan tidakada pembedaan yang dibuat antara pria dan perempuan. Manusia karena fitrahnya mampu mendaki rangkaian gradasi (tingkat-tingkat) kesempurnaan spiritual, yang berpuncak pada kedekatan maksimum di hadapan kehadirat Illahi. Proses ini ditentukan oleh kesalehan. Tentunya kesalehan ini dapat ditemukan pada pria maupun perempuan, dalam kapasitas yang sama. Maryam dan istri Fir’aun merupakan dua sosok teladan bagi seluruh orang beriman.

3. Perbedaan Mendasar Antara Pria dan Perempuan
Menurut pemenang nobel, Dr.Alex Carrel (1873-1944) Perbedaan yang terjadi antara pria dan perempuan tidak disebabkan oleh bentuk organ seksual  saja. Perbedaan itu karena sifat yang lebih mendasar. Perbedaan itu disebabkan struktur jaringan-jaringan dan oleh penyebaran seluruh organisme dengan zat-zat kimia tertentu yang dikeluarkan indung telur.ketidakpahaman ini menyebabkan para pendukung Feminisme meyakini bahwa kedua jenis kelamin harus diberi pendidikan, kekuasan dan hak serta tanggung jawab yang sama.[3]  
Tetapi terdapat perbedaan alamiah tertentu yang membagi manusia dalam dua gender: pria dan wanita. Sedikitnya ada empat faktor berbeda yang mesti diperhatikan, yaitu:




  1. Perbedaan Anatomis
o   Seks kromosom. Sel-sel tubuh pria berisikan satu kromosom X dan satu kromosom Y sementara sel-sel perempuan  terdiri dari dua kromosom X.
o   Seks gonad, testis pria dan ovarium perempuan merupakan karakteristik anatomi seksual mereka yang utama, tetapi pada kasus yang langka jaringan-jaringan keduanya mungkin terdapat dalam tubuh yang sama.

  1. Perbedaan Psikologis
Hormon sek-keseimbangan androgen dan estrogen- yang memulai segregasi seks pada bulan kedua kehidupan janin, dan berlanjut sepanjang masa pubertas  dan kedewasaan seksual hingga masa tua. Mempengaruhi semua tahapan perumbuhan dan regregasi mempunyai cakupan karakteristik dirinya sendiri yang cukup luas.

  1. Hukum Keseimbangan
Alam tersusun dari kumpulan unsur-unsur yang berlainan. Selain itu, setiap unsurnya bergerak. Untuk memfungsikan secara cermat kumpulan unsur bergerak yang begitu kompleks ini, harus ditetapkan batas-batas ruang dan waktu sehingga bagian-bagian yang berbeda itu tidak saling bertabrakan. Karena itu, Tuhan menciptakan suatu keseimbangan sistem di antara unsur-unsur tersebut. Prinsip ini dikenal sebagai “Hukum Alam.”
Bentuk penyimpangan apapun dari neraca Illahiah yang ditetapkan oleh Tuhan akan berakibat kekacauan. Tentu saja, konsep keteratura alam selalu dipertanyakan. Misalnya, seandainya daya tarik bumi lebih kecil dari yang betul-betul diperlukan makaorang tidak kesulitan membawa beban yang berat. Akan tetapi, karena daya tarik yang berlaku saat inilah rumah kita bisa kokoh berdiri di atas bumi. Sebab jika daya tarik berkurang isi bumi akan melayang dan peradaban hampir mustahil terjadi.

  1. Teori Pembagian Tugas
Dengan mempertimbangkan hukum keseimbangan Illahiah, perbedaan antara pria dan perempuan didasarkan atas prinsip pembagian tugas, yaitu pria bertanggung jawab untuk menjalankan tugas di luar rumah, sedangkan perempuan bertanggung jawab atas tugas di dalam rumah. Namun, ini bukan berarti pria lebih tinggi derajatnya dibandingkan perempuan. Karena secara sifat alamiahnya masing-masinglah maka pembagian tugas itu ada.
Para pendukung Feminisme bersikeras bahwa penyebab perbedaan antara pria dan perempuan bukanlah terletak pada sifat alamiah keduanya, tetapi terletak pada kerangka sosial yang dibuat oleh pria. Mereka beranggapan bahwa perempuan dapat melakukan apa saja yang yang dapat dilakukan pria, hanya saja kebiasan sosoal kuno mencegah perempuan menunjukan kemampiannya itu.
Dalam kerangka sosial, islam sesuai dengan lingkup sosial yang alami maupun praktismenggunakan prinsip pembagian kerjasesuai dengan jenis kelaminnya. Akan tetapi, pembagian ini tida bermaksud sebagai bentuk perlakuan diskriminasi. Niat utamanya adalah untuk menjaga kekhasan karakteristikkeduanya, sementara menempatkan bakat dan keahlian keduanya dalam cara yang paling bermanfaat secara sosial.

Penutup
Terdapat berbagam teori dan gerakan dalam pembahasan Feminisme yang menyajikan keberagaman ide, nilai, dan perspektif. Namun demikian, gerakan Feminisme dengan mempertimbangkan beragam perspektif dari beragam kelompok-kelompok tersebut berbeda-beda. Kendati demikian, dalam kesimpulannya yang digali oleh perempuan muslim, mereka tidak dipandang sebagai sebuah pembebasan atau perlindungan terhadap hak-hak kaum perempuan dalam masyarakat melainkan sebuah pengingkaran terhadap nilai nilai perempuan.


Daftar Pustaka
o   Hakeem, Ali Hosein. Membela Perempuan Menalar Feminisme dengan Nalar Agama. 2005. Al-Huda: Jakarta.
o   Khan, Wahiduddin. Antara Islam dan Barat. 2001. Serambi: Jakarta.
o   Stowasser, Barbara Freyer. Reinterpretasi Gender. 2001. Pustaka Hidayah: Bandung.

  


    





[1] Hakeem,Ali Hosein. Membela Perempuan. Hal: 27
[2] Khan, Wahiduddin. Antara Islam dan Barat. Hal:52-54
[3] Ibid, Hal: 40

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Meningkatkan kualitas belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar merupakan tanggung jawab guru, karena guru dengan kegiatan mengajarnya adalah membimbing aktivitas belajar siswa secara optimal.
Hasil dari pengajaran guru yang dilakukan secara optimal adalah tingkat prestasi siswa. Walaupun guru bukan satu-satunya syarat penunjang tercapainya prestasi siswa. Namun, tidak dapat dinapikan bahwa gurulah yang mempunyai peranan sangat besar dalam peningkatan mutu siswa, karena guru lebih banyak berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar di dunia pendidikan. Di samping bimbingan guru dalam aktivitas belajar, sehingga siswa dapat mencapai prestasi belajar yang memuaskan, faktor lain yang juga menentukan adalah sikap siswa dalam belajar.
Sikap siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung bergantung pada kepiawaian guru dalam mengelola kelas, termasuk di dalamnya adalah menciptakan suasana yang nyaman, penampilan yang menarik dan kreativitas dalam menyampaikan muatan dari materi pelajaran. Hal-hal tersebut merupakan stimulus bagi siswa untuk mengembangkan minat belajarnya, sehingga yang terjadi kemudian adalah siswa merespon stimulus tersebut dengan sikap yang positif dan respon sikap negatif siswa seperti tidak suka, tidak nyaman, tidak menarik, tidak kreatif dan membosankan dapat dihindari dan pada akhirnya semua itu mempengaruhi tingkat prestasi siswa.
Namun dalam realitasnya, respon positif siswa dalam belajar sangat minim, maksudnya banyak lembaga lembaga pendidikan dewasa ini yang belum mampu mengoptimalkan serta melakukan penilaian khusus terhadap sikap siswa, justru yang terjadi adalah prilaku pengabaian terhadap hal ini, sehingga yang tercipta kemudian adalah sebaliknya, yakni sikap negatif siswa, baik terhadap materi pelajaran, terhadap guru, terhadap proses pembelajaran maupun terhadap peningkatan mutu siswa sendiri.
Sikap negatif yang ditunjukan siswa sebagai respon dari stimulus yang diterimanya akan berdampak pada tingkat prestasi siswa. Bagaimana mungkin siswa akan mencapai kualitas, mutu, atau prestasi yang maksimal jika siswa masih menunjukan sikap apatis, menolak, mengabaikan, dan tidak menyenagi hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan belajar-mengajar.
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, guru dituntut mempersiapkan diri dalam kegiatan belajar mengajar dengan optimal. Guru harus memiliki kompetensi keguruan sebagai wujud keprofesionalannya. Inilah yang dimaksud Uzer Usman (2000) bahwa, agar dapat mencapai hasil yang optimal dalam kegiatan mengajar, guru harus dan dituntut untuk meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya yakni guru mampu merencanakan program pengajaran sekaligus mampu pula melaksanakannya dalam bentuk pengelolaan kegiatan belajar mengajar . Sementara menurut Buchari Alma (2009), salah satu ciri dari perbuatan profesional adalah usaha untuk meningkatkan keterampilan mengajar (Teaching Skill) .
Dari kedua pendapat di atas, diyakini bahwa keterampilan mengajar guru akan berpengaruh terhadap perkembangan diri siswa baik itu dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Artinya, keterampilan mengajar guru akan mempengaruhi pandangan atau kecenderungan siswa dalam belajar. Hal ini bisa diamati dari sikap siswa dalam kegiatan belajarnya, sebagai respon dari aktivitas guru dalam mengelola kelas. Karena bagaimanapun guru sangat mempengaruhi cara berpikir dan pembentukan sikap siswa dalam belajar. Hal ini dapat dilihat dari sikap siswa, suka tidak suka, merasa nyaman atau tidak nyaman dalam menerima stimulus dari guru dalam belajar.
Tentu hal ini tidak mudah dilakukan oleh seorang guru, karena guru dituntut untuk menciptakan suasana nyaman serta menumbuhkan sikap positif dalam diri siswa selama kegiatan belajar mengajar, seperti memperhatikan dan menyenangi setiap situasi, media, objek dari materi yang disampaikan maupun sikap dari guru. Sehingga guru akan lebih mudah dalam mengembangkan minat belajar siswa dan memberikan motivasi kepada mereka. Dengan demikian, siswa akan lebih mudah menyerap semua materi pelajaran, termasuk Pendidikan Agama Islam.
Bagi guru Pendidikan Agama Islam, keterampilan mengajar itu harus memuat nilai-nilai suci ajaran Islam, ini dapat diamati dari keterampilan guru dalam mengelola kelas, termasuk juga disini adalah sikap dan perilaku guru di depan siswanya. Hal ini sesuai dengan statement yang menyatakan bahwa pendidikan agama Islam sangat penting, maka guru pendidikan agama Islam dituntut menguasai keterampilan yang berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar agar terimplementasi pada sikap belajar yang baik pula, yang mengarah kepada terciptanya tujuan pembelajaran .
Namun pada kenyataannya, kendala yang dihadapi guru dalam mengajar masih sering terjadi, ini disebabkan guru belum sepenuhnya memiliki kualifikasi sebagaimana diharapkan, yaitu masih rendah kemampuan penguasaan materi maupun kemampuan yang berkaitan dengan kompetensi profesionalismenya.
Dari deskripsi di atas, menumbuhkan ketertarikan penulis untuk mencermati dan meneliti lebih lanjut hubungan antara keterampilan mengajar guru yang dilandasi oleh kualifikasi kompetensinya dalam mengajar yang berimplikasi langsung pada perilaku siswa dalam belajar. Apakah guru dan kualitas yang dimilikinya mampu untuk menciptakan sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran bidang studi PAI, apakah dengan keterampilan mengajarnya guru PAI mampu menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman, menggunakan strategi dan metode yang menarik sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
Dengan latar belakang pemikiran di atas, penulis tertarik untuk melakukan studi “Hubungan Keterampilan Mengajar Guru dengan Sikap Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Islamiyah Sawangan Depok”

B. Identifkasi Masalah
1. Bagaimana prestasi siswa kelas XI dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
2. Bagaimana kompetensi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
3. Bagaimana hubungan kompetensi guru dengan sikap belajar siswa kelas XI dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
4. Bagaimana keterampilan mengajar guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
5. Bagaimana hubungan keterampilan mengajar dengan proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
6. Bagaimana sikap belajar siswa kelas XI dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
7. Adakah Hubungan antara keterampilan mengajar guru dengan sikap belajar siswa kelas XI dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?

C. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan skripsi ini lebih terarah, maka penulis membatasi permasalahan yang ada sebagai berikut :
1. Keterampilan mengajar guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok
2. Sikap belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok
3. Hubungan antara keterampilan mengajar guru dengan sikap belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok

D. Rumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalah pokok dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana keterampilan mengajar guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
2. Bagaimana sikap belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?
3. Apakah terdapat hubungan antara keterampilan mengajar guru dengan sikap belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Islamiyah Sawangan Depok?

E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui keterampilan mengajar guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Untuk mengetahui sikap belajar siswa kelas XI Pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
3. Untuk melihat hubungan antara keterampilan mengajar guru dengan sikap belajar siswa kelas XI pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penulis akan memaparkan beberapa manfaat dari karya ilmiah ini:
1. Manfaat Teoritis/Ilmiah
a. Mendapatkan data dan fakta yang sahih dan valid mengenai hubungan antara keterampilan mengajar guru dengan sikap belajar siswa di lingkungan SMA Islamiyah Sawangan Depok.
b. Memberikan sumbangan bagi perkembangan khazanah ilmu pengetahuan, terutama bagi kemajuan ilmu pendidikan, khususnya sebagai sumbangan pemikiran bagi setiap pengelola sekolah dan para guru.

2. Manfaat Praktis
a. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Program Strata 1 (S-1) di Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi.
b. Memberikan masukan bagi Pengelola SMA Islamiyah Sawangan Depok.

untuk mendapatkan skripsi lengkap klik di sini